Ketika Aku Membenci Akad Nikah

Aku sangat menyukai proses akad nikah sejak kecil, walau dahulu aku mungkin belum paham betul akan makna secara agama. Tetapi secara pemahaman manusia ku, akad nikah adalah sesuatu proses yang teramat suci dan sakral yang seharusnya hanya dapat terjadi sekali seumur hidup manusia. Masih dalam pemahaman ku ketika proses akad nikah berlangsung, ketika calon mempelai wanita dengan untaian air mata bahagia serta haru memohon izin kepada sang ayahanda agar diperbolehkan menikah dengan pilihannya, mengucapkan terima kasih kepada ayahanda atas jasa-jasa sang ayah sebelum tanggung jawab sang ayah berpindah kepada pilihannya. Dan dimana ketika sang calon mempelai pria menjabat tangan calon mertuanya dengan mengucap bismillah siap mengemban tanggung jawab atas wanita pilihannya, lalu lafaz akad nikah diucapkan:

Sang ayah/wali hakim: saya nikahkan engkau dengan putri saya …. dengan mas kawin…. di bayar tunai! // mempelai pria: saya terima nikah dan kawinnya putri bapak…dengan mas kawin tersebut, tunai// SAH? ujar penghulu//ketika 2 saksi mengatakan SAH//maka SAH lah mereka menjadi sepasang suami istri dihadapan Allah, orang tua, keluarga, agama serta negara

 Maka ketika melakukan akad nikah, sebenarnya saat itu juga kita sedang menikah dihadapan Allah. Kita membuat janji bukan hanya kepada orang tua, dan pasangan tetapi yang terpenting adalah kita membuat janji kepada Allah! Mama ku sering berkata:

Ketika akad nikah antara sepasang manusia terjadi, Allah turut serta hadir ditengah-tengah mereka mencurahkan segala berkahnya itulah mengapa pernikahan yang baik selalu membawa berkah bagi umatnya, para malaikat bertasbih dan semua doa-doa yang di panjatkan ketika akad nikah berlangsung turut serta di-aminkan para malaikat.

Disinilah mengapa aku begitu menyukai proses akad nikah, bayangkan segenap penghuni syurga bergembira…

Tapi beranjak dewasa dan hingga malam ini hatiku bersedih untuk mereka yang menjadikan akad nikah sebuah legalitas demi melancarkan hawa nafsu…

Maka ketika aku membenci akad nikah, inilah yang ada dipikiran ku:

  • Aku membenci akad nikah untuk mereka yang tidak pernah bisa menghargai janji yang sudah mereka buat (dihadapan) Allah.
  • Aku membenci akad nikah untuk mereka yang tidak bisa menghargai sebuah KOMITMEN yang sudah dibuat.
  • Aku membenci akad nikah untuk mereka yang akhirnya memilih HAWA NAFSU mereka dan memutuskan untuk CERAI dengan pasangannya karena alasan klasik yang sering sekali aku dengar: TIDAK ADA KECOCOKAN & INI MEMANG SUDAH MENJADI TAKDIR (helllloooo,kok tega mereka yang mengkambing hitamkan takdir untuk mengelabui hawa nafsu ego mereka)
  • Dan ini yang terakhir yang membuat aku sedih dan membenci akad nikah: Untuk mereka yang hingga sampai pada masa tuanya tidak pernah benar-benar belajar makna dari pernikahan itu sendiri! dan berkali-kali mengucapkan akad nikah.

Tulisan ini kelak akan menjadi sebuah renungan tersendiri untuk ku nanti dalam membangun keluarga bersama suami. Aku mengerti membangun sebuah rumah tangga bukanlah proses singkat seminggu/tiga hari/satu hari jadi layaknya kita datang ke biro jasa untuk membuat SIM, KTP dll.

Rumah tangga adalah layaknya membangun sebuah rumah hingga seumur hidup, berusaha mencari celah kecocokan diantara ketidakcocokan, perlahan-lahan saling merubuhkan pilar-pilar kegoisan dan menggantinya dengan pilar kasih sayang serta kesetiaan. Membuat pondasi serta atap yang kokoh dengan selalu mengandalkan Allah, serta menjaga komitmen yang sudah terucap dan telah dikukuhkan saat akad nikah berlangsung dengan berbalut selimut agama yang hangat.

Bismillah, dengan niat yang baik serta bimbingan Allah kulangkahkan kaki mungilku membangun rumah tangga ini  bersama suami ku dan calon anak-anak yang kelak Engkau akan titipkan kepada kami ya Rabbi…

9 Juli 2012

Sudut kamar dini hari…

-ay-